Bengkayang, 21 Agustus 2026 — Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Bengkayang menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek)
Dampak Kemarau dan Kabut Asap pada Jumat (21/8/2026), bertempat di Aula Ki
Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkayang.
Rakortek ini dilaksanakan sebagai langkah koordinasi
lintas sektor untuk menyikapi kondisi kemarau dan kabut asap yang berpotensi
berdampak terhadap kesehatan peserta didik serta keberlangsungan proses
pembelajaran di satuan pendidikan.
Kegiatan diikuti oleh sejumlah pemangku kepentingan
secara luring dan daring. Peserta luring terdiri atas Irban IV Inspektorat
Kabupaten Bengkayang, Kabid KL BPBD, Kabid Lingkungan Hidup, Kabid Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Korwil I Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Bengkayang, Ketua PGRI Kabupaten Bengkayang, serta Dewan
Pendidikan Kabupaten Bengkayang.
Sementara itu, peserta yang mengikuti secara daring
antara lain Korwil II sampai VI Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Bengkayang, Ketua APSI, Ketua IGI, Korwil SPPG, serta kepala satuan
pendidikan jenjang PAUD, SD, dan SMP se-Kabupaten Bengkayang.
Dalam rakortek tersebut, Dinas Kesehatan menyampaikan
bahwa kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Bengkayang pada
tahun 2026 masih tergolong rendah dibandingkan tahun 2025. Meski demikian,
kewaspadaan terhadap dampak kabut asap tetap perlu ditingkatkan, khususnya
terhadap kelompok rentan seperti anak-anak.
Dari BPBD Kabupaten Bengkayang disampaikan bahwa
kondisi kabut asap di Bengkayang saat ini masih relatif lebih rendah
dibandingkan beberapa daerah lainnya. Namun, kondisi tersebut tetap perlu
dipantau karena situasi dapat berubah sewaktu-waktu.
Sementara itu, Dinas Perumahan, Permukiman dan
Lingkungan Hidup (PerkimLH) menjelaskan bahwa pemerintah daerah memiliki
stasiun pemantauan kualitas udara dari Kementerian Lingkungan Hidup. Namun,
terdapat kendala teknis pada salah satu perangkat pemantauan sehingga data
kualitas udara belum dapat dirilis secara optimal. PerkimLH menyampaikan bahwa
kondisi udara Bengkayang secara umum masih berada pada kategori sedang hingga
kurang baik, dengan kabut asap antara lain dipengaruhi oleh kebakaran hutan dan
lahan serta kondisi kemarau yang cukup panjang.
Dewan Pendidikan Kabupaten Bengkayang menyarankan agar
penggunaan masker diperluas dan jam pembelajaran dikurangi sebagai langkah
perlindungan terhadap peserta didik. Hal senada disampaikan Ketua PGRI
Kabupaten Bengkayang yang menilai bahwa pembelajaran tatap muka masih dapat
dilaksanakan dengan penyesuaian waktu belajar serta memperkuat protokol
kesehatan. Selain itu,
kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di luar ruangan disarankan untuk
dikurangi atau ditiadakan apabila kondisi udara tidak mendukung. Peserta didik
juga diimbau menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih.
Kepala Bidang Kurikulum dan Mutu
Pendidikan juga
menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan proses pembelajaran. Berdasarkan
hasil evaluasi pendidikan, kemampuan literasi dan numerasi peserta didik di
Kabupaten Bengkayang masih perlu mendapat perhatian. Karena itu, pembelajaran
tetap perlu dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan dan kualitas
udara.
Dalam kesempatan tersebut, Irban IV Inspektorat
Kabupaten Bengkayang mengingatkan agar apabila pengadaan masker menggunakan
dana BOS, mekanisme dan dasar penganggarannya perlu dikaji dengan baik sehingga
tidak menimbulkan persoalan dalam pemeriksaan.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten
Bengkayang meminta agar informasi mengenai kualitas udara dapat disampaikan
secara berkala oleh PerkimLH dan Dinas Kesehatan. Ia juga menegaskan bahwa
kondisi setiap satuan pendidikan tidak selalu sama sehingga kebijakan harus
mempertimbangkan kondisi wilayah masing-masing dan dikoordinasikan melalui
korwil.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Bengkayang menegaskan bahwa kondisi kabut asap bersifat dinamis dan
dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, kebijakan terkait proses
pembelajaran juga harus bersifat dinamis dan menyesuaikan perkembangan kualitas
udara di masing-masing wilayah.
“Yang paling penting adalah memastikan anak-anak tetap
sehat, tetapi pada saat yang sama proses pembelajaran tetap berjalan. Karena
itu, diperlukan dukungan dan kerja sama semua pihak,” ungkap
Kepala Dinas sebagai closing statement dalam rakortek tersebut.
Lima Rumusan Hasil Rakortek
Berdasarkan hasil pembahasan dan koordinasi lintas sektor, Rakortek menghasilkan beberapa rumusan penting yaitu:
Melalui Rakortek tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Bengkayang menegaskan komitmen untuk terus memantau perkembangan
kondisi kemarau dan kabut asap serta mengambil langkah yang diperlukan sesuai
situasi di lapangan.
Keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi
prioritas, sementara keberlangsungan pembelajaran tetap dijaga melalui
kebijakan yang adaptif, terukur, dan berdasarkan kondisi kualitas udara
terkini. (fk)