Pembelajaran Mendalam yang Berakar Kearifan Lokal Bengkayang dalam Pendekatan Gembira Bergerak Berdampak untuk Semua


pembelajaran-mendalam-yang-berakar-kearifan-lokal-bengkayang-dalam-pendekatan-gembira-bergerak-berdampak-untuk-semua-920198

Ruang kelas sering mempertemukan kita dengan dua kenyataan yang tampak bertolak belakang. Pada satu sisi, sekolah dituntut melahirkan pembelajar yang mampu berpikir kritis, bernalar, dan mengambil keputusan berbasis bukti. Pada sisi lain, dinamika belajar harian kerap terseret pada pola yang lebih dangkal: mengejar ketuntasan materi, menyelesaikan tugas, dan menumpuk skor. Pembelajaran tetap berjalan, tetapi pemahaman tidak selalu tumbuh. Anak mungkin dapat menjawab, tetapi belum tentu mampu menjelaskan mengapa jawabannya benar, apalagi mentransfer gagasan ke situasi baru. Bengkayang sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengatasi situasi tersebut karena tersedia modal yang tidak dimiliki semua daerah: kearifan lokal yang masih hidup dalam praktik sosial warga. Namun, modal budaya ini kerap terjebak menjadi “ornamen pedagogik”, muncul sebagai ilustrasi pada awal pelajaran atau hiasan dalam proyek tertentu, tanpa benar-benar diolah sebagai bahan kerja berpikir. Padahal, kearifan lokal dapat berfungsi sebagai perangkat epistemik (sumber pengetahuan), perangkat etis (sumber nilai), sekaligus perangkat sosial (sumber pengalaman kolektif) yang sangat kuat untuk mendorong pembelajaran yang mendalam.

Tulisan ini mengajukan satu gagasan sederhana namun strategis: pembelajaran mendalam akan lebih mungkin terjadi ketika sekolah memadukan kearifan lokal dengan pendekatan Gembira Bergerak yang dirancang sebagai strategi kognitif bukan sekadar aktivitas fisik. Ketiganya pembelajaran mendalam, kearifan lokal, dan Gembira Bergerak bisa menjadi ekosistem kecil di dalam kelas yang berdampak bagi semua, terutama bila sekolah berani menggeser fokus dari “ramai kegiatan” menjadi “jelas bukti belajar”. Pembelajaran mendalam: dari hafalan menuju pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan. Secara pedagogis, pembelajaran mendalam bukan sekadar belajar lebih lama atau membuat tugas lebih banyak. Ia menandai perubahan kualitas: dari “menguasai informasi” menuju “membangun pemahaman”. Intinya terletak pada kemampuan peserta didik untuk:

  1. Menjelaskan konsep dengan bahasa sendiri secara masuk akal, bukan menyalin definisi.

  2. Menghubungkan ide dengan konteks lain sehingga pengetahuan tidak terisolasi.

  3. Mentransfer pemahaman untuk memecahkan masalah baru yang tidak identik dengan contoh latihan.

  4. Mengevaluasi argumen/solusi dengan kriteria tertentu, bukan mengikuti intuisi semata.

  5. Merefleksikan proses belajar dan nilai yang dipilih mengapa ini penting bagi dirinya dan komunitasnya.

  6. Mencipta atau menghasilkan gagasan baru yang relevan dan dapat diuji.

Kualitas-kualitas ini menuntut pendekatan penilaian yang berbeda. Dalam pembelajaran mendalam, penilaian tidak cukup mengecek “benar-salah”, melainkan membaca jejak penalaran: bagaimana peserta didik membangun klaim, mengumpulkan bukti, menyusun alasan, menimbang alternatif, dan memperbaiki kesimpulan. Dengan kata lain, pembelajaran mendalam membutuhkan pembelajaran yang dapat dilacak melalui evidensi, bukan sekadar kesan. Kearifan lokal: sumber konteks autentik yang memperdalam nalar dan nilai. Kearifan lokal Bengkayang baik yang hidup dalam tradisi, ruang sosial, bahasa, maupun relasi manusia dengan alam sebenarnya menyediakan “laboratorium” yang sangat kaya untuk pembelajaran mendalam. Ada alasan akademik mengapa konteks lokal penting:

  • Relevansi kognitif: peserta didik lebih mudah memulai penalaran dari fenomena yang ia kenal.

  • Kekuatan data nyata: konteks lokal menyodorkan kasus konkret yang dapat diamati, diwawancarai, ditelusuri, dan diverifikasi.

  • Dimensi nilai: tradisi dan praktik hidup menyimpan norma, etika, dan pilihan moral yang dapat dianalisis, diperdebatkan, lalu direfleksikan.

Namun ada syaratnya: kearifan lokal harus ditempatkan sebagai objek analisis, bukan objek romantisasi. Sekolah perlu mengajarkan peserta didik untuk bertanya secara akademik: nilai apa yang dijaga, mengapa praktik itu terbentuk, apa dampak sosialnya, bagaimana relasinya dengan tantangan masa kini, dan apa yang dapat dipetik sebagai prinsip yang bisa diterapkan lintas situasi. Ketika lokal diperlakukan seperti ini, pembelajaran bukan hanya “mengenal budaya”, tetapi “menggunakan budaya untuk melatih cara berpikir”. 

Gembira Bergerak: gerak sebagai strategi kognitif yang menghidupkan pembelajaran mendalam. Pendekatan Gembira Bergerak sering disalahpahami sebagai sekadar membuat kelas tidak membosankan. Padahal, dalam perspektif pembelajaran, gerak bisa menjadi strategi kognitif yang penting. Ada beberapa alasan:

  • Gerak mengatur atensi: berpindah posisi, bergerak terarah, dan berinteraksi dapat mengurangi kelelahan kognitif serta mempertahankan fokus.

  • Gerak memperkuat representasi: konsep-konsep abstrak lebih mudah dipahami ketika dipetakan lewat aktivitas spasial, simulasi, atau manipulasi.

  • Gerak memperkaya dialog: diskusi berbasis posisi, rotasi peran, atau stasiun belajar membuat pertukaran gagasan lebih merata.

  • Gerak menghidupkan nilai: nilai tidak hanya dibicarakan, tetapi dialami melalui kerja kolaboratif, negosiasi, dan tanggung jawab bersama.

Akan tetapi, agar tetap akademik, Gembira Bergerak harus memenuhi satu prinsip: setiap gerak harus berujung pada produk berpikir. Artinya, aktivitas bergerak harus ditutup dengan artefak yang dapat dinilai: catatan klaim, bukti, peta sebab-akibat, ringkasan argumen, refleksi nilai, prototipe solusi, atau portofolio proses. Di sinilah gerak menjadi “bermakna”: bukan sekadar bergerak, melainkan bergerak untuk membuat pikiran terlihat dan dapat ditinjau. Berdampak untuk semua: pembelajaran yang adil, partisipatif, dan tidak meninggalkan siapa pun. Target “berdampak untuk semua” sering gagal bukan karena kurikulum kurang bagus, melainkan karena desain kelas tidak memeratakan kesempatan belajar. Dalam kelas yang tidak terstruktur, peserta didik yang percaya diri akan mendominasi diskusi; yang pendiam akan menjadi pengikut; yang tertinggal akan semakin tertinggal karena tidak memiliki akses pada proses bernalar. Karena itu, pembelajaran mendalam berbasis lokal melalui Gembira Bergerak perlu menegakkan prinsip pemerataan:

  1. Peran yang jelas dan bergilir (misalnya penanya, pencatat bukti, penguji argumen, penyimpul, penjaga waktu) agar setiap siswa terlibat dalam kerja kognitif, bukan hanya kerja teknis.

  2. Tugas yang bertingkat sehingga semua dapat menghasilkan bukti belajar pada levelnya dengan jalur naik yang memungkinkan kemajuan.

  3. Kriteria penilaian yang transparan supaya siswa tahu bahwa yang dihargai bukan “paling cepat” atau “paling ramai”, tetapi kualitas alasan dan bukti.

  4. Ruang aman untuk revisi: pembelajaran mendalam menganggap kesalahan sebagai data belajar, bukan aib yang harus disembunyikan.

Bengkayang memiliki kekuatan budaya dan sosial yang bisa menjadi fondasi pembelajaran mendalam. Namun fondasi tidak akan berarti bila tidak diterjemahkan menjadi praktik kelas yang operasional. Karena itu, arah yang perlu diperkuat adalah mengubah kearifan lokal dari “hiasan” menjadi “bahan berpikir”, lalu mengemasnya melalui Gembira Bergerak sebagai strategi kognitif yang menghasilkan evidensi, sehingga pembelajaran mendalam menjadi nyata dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar kelas yang menyenangkan atau program yang terlihat ramai, melainkan pembelajaran yang membuat peserta didik mampu memahami secara utuh, bernalar secara jernih, mengambil keputusan berbasis bukti, dan tetap berakar pada nilai-nilai komunitasnya. Jika itu terjadi, pendidikan Bengkayang tidak hanya bergerak tetapi bergerak dengan arah, bermakna, dan berdampak untuk semua.

Oleh: Marsel Marselus, S.Pd., M.Pd

(Kepala SMP Negeri 2 Bengkayang)